Rabu, 11 Mei 2011

2.1 Distribusi Frekuensi Relatif dan Kumulatif
Frekuensi relatif masing-masing kelas diperoleh dengan cara membagi frekuens kelas dengan frekuensi total. Jika dalam tabel distribusi frekuensi didapat nilai frekuensi absolut (f abs), maka dalam tabel distribusi frekuensi relatif nilai frekuensi (f) dinyatakan dalam persen (%) yang disingkat f (%) atau f (rel). Untuk mendapatkan nilai f (%) dihitung dengan rumus:



Distribusi frekuensi kumulatif adalah frekuensi total semua nilai yang lebih kecil daripada batas atas kelas suatu selang kelas. Frekuensi kumulatifnya (fkum) didapat dengan jalan menjumlahkan frekuensi demi frekuensi. Tabel distribusi frekuensi kumulatif ada dua macam, yaitu kumulatif kurang dari dan kumulatif lebih dari. Frekuensi kumulatif kurang dari adalah frekuensi dari data yang lebih kecil dari batas kelas atas yang sebenarnya tiap kelas. Sedangkan frekuensi kumulatif lebih dari adalah frekuensi dari data yang lebih besar dari batas kelas bawah yang sebenarnya tiap kelas.
Daftar distribusi frekuensi kumulatif relatif ialah apabila nilai fkum dalam frekuensi kumulatif diubah dalam persen (%).
2.2 Histogram
Histogram adalah penyajian data distribusi frekuensi yang diubah menjadi diagram batang. Untuk menggambarkan histogram dipakai sumbu mendatar yang menyatakan frekuensi absolute atau frekuensi relatif. Suatu histogram berbeda dari diagram balok dalam hal sebagai lebar baloknya digunakan batas kelas dan bukan batas limit kelas. Digunakannya batas kelas bagi lebar balok menghilangkan ruang yang ada antara balok-balok sehingga memberikan ruang yang padat.
2.3 Poligon Frekuensi
Poligon frekuensi adalah gambar garis yang menghubungkan tengah-tengah tiap sisi atas yang berdekatan dengan tengah-tengah jarak frekuensi absolut masing-masing. Jika daftar distribusi frekuensi mempunyai kelas-kelas interval yang berbeda, maka tinggi diagram tiap kelas harus disesuaikan. Untuk ini, ambil panjang kelas yang sama yang terbanyak terjadi sebagai sebuah pokok. Tinggi untuk kelas-kelas lainnya digambarkan sebagai kebalikan dari panjang kelas dikalikan dengan frekuensi yang diberikan.
Poligon merupakan bangun bersisi banyak yang tertutup. Untuk menutup poligon frekuensi kita memerlukan sebuah selang kelas tambahan yang ditambahkan pada kedua ujung sebaran, masing-masing dengan frekuensi nol.
Kita dapat dengan cepat memperoleh poligon frekuensi dari histogram dengan cara menghubungkan titik-titik tengah puncak persegi panjang yang berdekatan dan kemudian menambahkan kedua selang tersebut pada masing-masing ujungnya.
2.4 Ogive (Ozaiv)
Ogive adalah distribusi frekuensi kumulatif yang digambarkan diagramnya dalam sumbu tegak dan mendatar. Ogive “kurang dari” ialah diagram dari distribusi frekuensi kumulatif kurang dari. Dan ogive “lebih dari” ialah diagram dari distribusi frekuensi kumulatif lebih dari. Ogive diperoleh dengan memplotkan frekuensi kumulatif yang lebih kecil daripada batas atas kelas terhadap batas atas kelasnya.
LANDASAN TEORI

Ukuran Penyebaran
Selain ukuran penempatan dan ukuran gejala pusat, masih ada ukuran lainnya yaitu ukuran penyimpangan atau ukuran variasi atau ukuran dispersi. Yang dimaksud dengan ukuran variasi adalah ukuran yang menyatakan seberapa banyak nilai-nilai data yang berbeda dengan nilai pusatnya atau seberapa jauh penyimpangan nilai-nilai data tersebut dari nilai pusat. Ukuran ini menggambarkan derajat berpencarnya data kuantitatif.
Ukuran variasi ini pada dasarnya merupakan pelengkap dari ukuran nilai pusat dalam rangka penggambaran sekumpulan data, karena ukuran nilai pusat secara terpisah tidaklah dapat menggambarkan keadaan keseluruhan data dengan baik. Ukuran nilai pusat tersebut hanya memberikan informasi tentang sebuah nilai dimana nilai-nilai data yang lain berpencar atau dengan kata lain setengah dari keseluruhan data berada sebelum nilai pusat dan setengahnya lagi berada setelah nilai pusat. Dengan demikian penggambaran kumpulan data yang hanya menggunakan ukuran nilai pusat sangatlah tidak tepat karena dapat menghasilkan banyak sekali kumpulan data.
Agar penggambaran kumpulan data tersebut menjadi jelas dan tepat maka kita tidak hanya menggunakan ukuran nilai pusat saja tetapi perlu juga ukuran variasi. Ukuran variasi tersebut meliputi jangkauan (range) yang terdiri dari jangkauan antar kuartil dan semi interkuartil, simpangan rata-rata, simpangan baku, varians, koefisien variasi, dan angka baku.
1. Jangkauan (range)
Range merupakan ukuran variasi yang paling sederhana dan paling mudah ditentukan nilainya. Yang dimaksud dengan range adalah selisih nilai-nilai ekstrim yang terdapat dalam kumpulan data atau dengan kata lain selisih nilai tertinggi dengan nilai terendah dalam kumpulan data. Rumusnya adalah:

atau

Penggunaa range beserta rata-rata hitung (salah satu nilai pusat) hanya sedikit memperjelas penggambaran sekumpulan data, yaitu hanya membantu menemukan nilai terkecil dan nilai terbesar dalam kumpulan data. Penggunaan range beserta rata-rata hitung untuk menggambarkan sekumpulan data masih belum dapat menunjukkan penyimpangan nilai-nilai yang ada dengan nilai pusatnya secara jelas.
Untuk data berkelompok, jangkauan dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu menggunakan titik atau nilai tengah dan menggunakan tepi kelas.
 Jangkauan adalah selisih titik tengah kelas tertinggi dengan titik tengah kelas terendah.
 Jangkauan adalah selisih tepi atas kelas tertinggi dengan tepi bawah kelas terendah.
Jangkauan antar kuartil adalah selisih antara nilai kuartil atas (Q3) dan kuartil bawah (Q1). Dirumuskan:

Jangkauan semi interkuartil atau simpangan kuartil adalah setengah dari selisih kuartil atas (Q3) dan kuartil bawah (Q1). Dirumuskan:

Jangkauan antarkuartil (JK) dapat digunakan untuk menemukan adanya data pencilan, yaitu data yang dianggap salah catat atau salah ukur atau berasal dari kasus yang menyimpang, karena itu perlu diteliti ulang. Data pencilan adalah data yang kurang dari pagar dalam atau lebih dari pagar luar.



Keterangan: L = satu langkah
PD = pagar dalam
PL = pagar luar
2. Simpangan Rata-rata

Simpangan rata-rata adalah nilai rata-rata hitung dari harga mutlak simpangan-simpangannya. Simpangan rata-rata merupakan ukuran variasi yang kedua dan ukuran ini lebih baik daripada range. Apabila simpangan rata-rata ini disertakan pada ukuran nilai (mean), maka hal tersebut akan dapat menggambarkan suatu kumpulan data yang tepat, baik bagi nilai pusatnya maupun bagi variasi keseluruhan nilai yang ada dalam kumpulan data tersebut. Simpangan rata-rata ini ditentukan berdasarkan pada keseluruhan nilai yang ada dalam kelompok data yang bersangkutan, bukan hanya berdasar pada nilai-nilai ekstrimnya saja.
Supaya besar penyimpangan keseluruhan nilai data tidak nol, maka penyimpangan setiap nilai dari meannya harus diberi tanda harga mutlak.
Untuk data tunggal, simpangan rata-ratanya dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Untuk data berkelompok (distribusi frekuensi), nilai tengah kelas (class mark) dianggap sebagai nilai yang representatif bagi nilai-nilai yang terdapat dalam kelas bersangkutan. Simpangan rata-rata data berkelompok dapat dihitung dengan rumus:

Simpangan rata-rata merupakan ukuran variasi yang lebih baik daripada range karena simpangan rata-rata didapatkan/diperhitungkan dari nilai keseluruhan data, bukan hanya dari nilai ekstrimnya saja. Simpangan rata-rata juga merupakan ukuran variasi yang didasarkan pada pengukuran simpangan absolute, yaitu menekankan pada besar/kecilnya simpangan dan bukan arah simpangan.
LANDASAN TEORI
Distribusi Frekuensi
Sering kali kita menghadapi masalah dalam menyajikan sejumlah data statistik yang besar dalam bentuk yang ringkas dan kompak. Meskipun ukuran numerik bagi lokasi dan ragam jelas merupakan deskripsi yang kompak dan bermanfaat bagi segugus pengamatan, ukuran-ukuran tersebut tidak dapat mengidentifikasi semua cirri yang penting. Ciri-ciri penting sejumlah besar data dapat diketahui melalui pengelompokkan data tersebut ke dalam beberapa kelas, dan kemudian dihitung banyaknya pengamatan yang masuk ke dalam setiap kelas. Susunan demikian ini dalam bentuk tabel, disebut sebaran/distribusi frekuensi.
Data yang disajikan dalam bentuk sebaran frekuensi dikatakan sebagai data yang telah dikelompokkan. Tabel distribusi frekuensi sangat cocok untuk menyajikan data dalam bentuk beberapa kelompok. Membuat tabel frekuensi atau distribusi frekuensi berarti mendistribusikan data ke dalam beberapa kelas atau kategori, kemudian menentukan banyaknya individu yang termasuk kelas tertentu, yang disebut frekuensi kelas (class frequency).
Sebelum membuat tabel distribusi frekuensi terlebih dahulu diberikan istilah-istilah yang digunakan dengan contoh sebuah tabel distribusi frekuensi berikut ini.
Nilai DP3 untuk 34 NPS
Nilai DP3 frekuensi
48 – 54
55 – 61
62 – 68
69 – 75
76 – 82
83 – 89
90 – 96 1
2
7
12
7
3
2
Jumlah 34

Pengelompokkan nilai 48–54, 55–61 dan seterusnya disebut kelas interval. Urutan kelas interval disusun mulai dari yang terkecil sampai terbesar. Semua kelas interval berada di kolom kiri, sedangkan nilai yang berada di kolom kanan adalah nilai frekuensi. Nilai-nilai terkecil dan terbesar dalam setiap selang disebut limit kelas. Nilai-nilai di kiri kelas interval (48, 55, 62, 69,76, 83, dan 90) disebut limit bawah kelas. Nilai-nilai di kanan kelas interval (54, 61, 68, 75, 82, 89, dan 96) disebut limit atas kelas. Kelas interval 48–54, 55–61, sebetulnya secara teoritis mencakup seluruh nilai antara 47,5–54,5 dan 54,5–61,5. 47,5–54,5 disebut lower class boundary (batas kelas bawah yang sebenarnya) sedangkan 54,5–61,5 disebut upper class boundary (batas kelas atas yang sebenarnya). Batas kelas selalu dinyatakan satu desimal lebih banyak daripada pengamatan asalnya. Hal ini menjamin bahwa tidak ada pengamatan yang jatuh tepat pada batas kelas, sehingga menghindarkan keraguan pada kelas mana pengamatan itu termasuk. Banyaknya pengamatan yang masuk dalam suatu kelas tertentu disebut frekuensi kelas dan dilambangkan dengan huruf f.



Titik tengah kelas pertama untuk tebel tadi adalah (48 + 54) / 2 = 51.

Jangkauan/rentang yaitu data tertinggi dikurang data terendah dengan rumus:


Lebar/besar/panjang kelas suatu kelas didefinisikan sebagai selisih antara batas atas kelas dengan batas bawah kelas bagi kelas yang bersangkutan.
Besarnya kelas: 54,5 – 47,5 = 7
61,5 – 54,5 = 7
Apabila seluruh kelas interval mempunyai besar kelas yang sama, besar kelas sering diberi simbol c. Dan c ini merupakan selisih antara dua lower limit atau dua upper limit yang berdekatan (disebut nilai kelas interval).
Pada umumnya:
c = ¬¬ Xn – X1
k
dimana c = panjang kelas interval
k = banyaknya kelas
Xn = data tertinggi
X1 = data terendah
jenis-jenis tipe data yang ada pada visual basic !
Data memiliki tipe yang berbeda‐beda dan biasanya data dikelompokkan pada kelompok yang sejenis agar tidak terjadi operasi matematika diantara data yang berbeda jenis tersebut, contohnya kita tidak bisa menjumlahkan nilai suatu jarak (Km) dengan Massa (Kg) karena keduanya memiliki tipe data yang berbeda. Begitu juga dalam suatu program, setiap nilai harus dikelompokkan pada jenis‐jenis tertentu yang disebut dengan tipe data. Dalam Visual Basic 6 mengenal beberapa tipe data, yaitu:

Integer adalah tipe data untuk bilangan bulat
LongInt, untuk data bilangan bulat yang nilainya lebih besar
Single adalah tipe data untuk bilangan pecahan
Currency adalah tipe data untuk angka mata uang
Date adalah tipe data untuk tanggal dan waktu
Boolean adalah tipe data yang bernilai TRUE dan FALSE
Date, merupakan tipe data waktu atau tanggal
Object, tipe data untuk memasukan sebuah objek seperti gambar
Variant, tipe data variant

Dalam proses penulisannya tipe data juga memiliki bentuk umum, yaitu sebagai berikut :
Syntax deklarasi variabel :



Setiap data yang disimpan dalam komputer memerlukan variabel sebagai sesuatu tempat untuk menyimpan nilai dari data tersebut, dan nilainya suatu variable dapat berubah-ubah selama proses program.misalnya kita bisa menyimpan nilai ujian mid di variable A dan nilai ujian akhir di variable B, dan setiap mahasiswa nilainya pasti berbeda.
Membuat sebuah data menggunakan tipe data dalam variabel memiliki beberapa aturan yang haris dilakukan, bebrapa aturan tersebut antara lain :
• Aturan di dalam penamaan variabel :
Harus diawali dengan huruf.
• Tidak boleh menggunakan spasi. Spasi bisa diganti dengan karakter underscore (_).
• Tidak boleh menggunakan karakter-karakter khusus (seperti : +, -, *, /, <, >, dll).
• Tidak boleh menggunakan kata-kata kunci yang sudah dikenal oleh Visual Basic 6 (seperti : Dim, AS, String, Integer, dll )
Bentuk umum untuk mendeklarasikan sebuah variabel :



Misalnya :

Dim sngAngka As Single
Dim strText As String
Dim dblBilangan As Double

Untuk sebuah variabel agar bisa digunakan di seluruh bagian program, harus dideklarasikan secara publik contohnya sebagai berikut :



Konstanta adalah variabel yang memiliki nilai tetap, sekali variabel konstanta diberi nilai maka selama proses program berjalan nilai konstanta tidak akan berubah. Konstanta biasanya digunakan untuk menyimpan nilai-nilai tertentu yang bersifat tetap sepert nilai grafitasi bumi, Fi, dan tetapan-tetapan dalam rumus fisika atau matematika lainnya. Cara pendeklarasian sebuah konstanta sama halnya dengan variabel, pendeklarasian konstanta data dilakukan secara private maupun public.






















1. Sebutkan dan Jelaskan yang dimaksud percabangan pada visual basic ! tuliskan bentuk umumnya !

Jawab :

Struktur percabangan dalam Visual Basic adalah suatu kondisi dimana dalam sebuah program akan terjadi percabangn antara satu data dengan data yang lain. Jenis – jenis percabangan pada Visual Basic terbagi menjadi beberapa fungsi, yakni:

• IF THEN
If then digunakan untuk menjalankan satu atau lebih pernyataan kondisi. Bentuk umum if then antara lain :

Atau








• IF THEN – ELSE
If then else digunakan untuk beberapa blok pernyataan. Bentuk umum if then else adalah :



• SELECT CASE
Struktur select case hampir mirip dengan if then else yang digunakan untuk memilih satu blok pernyataan dari beberapa blok pernyataan. Struktur select case memiliki kelebihan yaitu lebih mudah dibaca dibandingkan struktur if then else. Bentuk umum select case adalah sebagai berikut :




















perulangan pada visual basic ! tuliskan bentuk umumnya !

Jawab :

Struktur perulangan pada Visuaal Basicc adalah pengulangan statement atau blok statement yang dilakukan secara berulang kali sesuai dengan jumlah yang ingin ditentukan oleh pemakai. Jenis-jenis perulangan terbagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut :

• For – To – Do
For – To – Do digunakan sebagai perintah yang harus dikerjakan berulang-ulang.
Bentuk Umum :




• For next
For Next digunakan untuk mengulangi pernyataan dalam sebanyak nilai tertentu.
Bentuk umum :

• DO – LOOP
Mengulangi blok pernyataan jika kondisi Benar atau hingga kondisi menjadi Benar.
Bentuk umum :
Atau

• While … Wend
Digunakan untuk menjalankan pernyataan sepanjang kondisi masih bernilai benar.
Bentuk Umum :

masing-masing contoh program perulangan dan percabangan pada VB ! berilah outputnya !

Jawab :

CODDING PERULANGAN

1. Untuk mencari for next
Dengan double klik command for next maka akan keluar listing programnya , lalu kita menuliskannya sesuai dengan rumus for next yaitu:
For i = 1 To 20
List1.AddItem "angka" & i
Next i

Yang dimaksud dengan rumus tersebut berarti kita kan menggunakan for next jadi hal pertama kita tulis for next yang berarti untuk huruf i , i ini adalah variabel atau jumlah data yang akan kita masukan , disini kita memasukan perintah untuk memasukan angka 1 sampai 20 berarti kita tulis 1 to 20, kemudian kita print data yang kita masukan ke list box dengan cara List1.AddItem "angka" & i , hasilnya akan berada di list box , berarti listbox ini tempat untuk menampilkan hasilnya
Dengan bentuk umun for next
For i: 1 to 20
Selanjutnya untuk menjalankan perintahnya hanya menekan tombol F-5 maka hasilnya akan keluar sesuai dengan prosedure perintahnya

2. Untuk for next 2

Dalam mendefinisikannya digunakan untuk menampilkan tulisan dalam hal ini menampilkan tulisan “angka” didepan angka 1,2,3..........20 dengan double klik pada command for next 2 di program ini kita akan menampilkan hasilnya dari 1 ke 3 ke 5 dan seterusnya berarti angkanya meloncat dua angka. Rumus yang digunakan adalah seperti berikut :

For i = 1 To 20 Step 2
List1.AddItem "angka" & i
Next i

Sama halnya dengan for next sebelumnya halnya saja for i menggunakan step 2 berarti prosedure perintahnya dengan meloncat 2 angka maka hasilnya merupakan bilangan yang ganjil , 1,3,5, ,7 9 ,11 ,13 ,15 17,19

Untuk melihat agar hasilnya tampil pada list box maka menjalankannya dengan menekan F-5

3. Untuk do until
Yakni untuk mendefinisikan huruf a-z dengan menggunakan rumus dibawah ini

Dim i As Integer
i = Asc("a")
Do Until i > Asc("z")
List1.AddItem Chr(i)
i = i + 1
Loop

Berbeda untuk perulangan diatas kita menggunakan dim i as integer untuk mendefinisikan i sebagai char (“a”) atau chr karena kita akan mendefinisikan huruf a-z lalu do until > asc (“z”) dengan mendefinisikan list1.additem chr(i) hal ini agar hurufnya berurut sampai belakang

4. Do while
Untuk perulangan do while adalah kebalikan dari do until jika do until mengurutkan dari depan maka do while mengurutkan dari belakang dengan menggunakn rumus berikut:
Tidak usah menuliskan dim i as interger lagi karena sudah di command 3

i = Asc("z")
Do While i > Asc("a")
List1.AddItem "" & Chr(i)
i= i – 1
Maka hasilnya sesuai dengan prosedure yang diperintahkan akan menampilkan huruf z-a pada list box i =i-1 adalah untuk kondisi yang lebih kecil
OUTPUT PROGRAM
Larutan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Dalam kimia, larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut atau solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut atau solven. Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi larutan, sedangkan proses pencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut pelarutan atau solvasi.
Contoh larutan yang umum dijumpai adalah padatan yang dilarutkan dalam cairan, seperti garam atau gula dilarutkan dalam air. Gas juga dapat pula dilarutkan dalam cairan, misalnya karbon dioksida atau oksigen dalam air. Selain itu, cairan dapat pula larut dalam cairan lain, sementara gas larut dalam gas lain. Terdapat pula larutan padat, misalnya aloi (campuran logam) dan mineral tertentu

Konsentrasi
Konsentrasi larutan menyatakan secara kuantitatif komposisi zat terlarut dan pelarut di dalam larutan. Konsentrasi umumnya dinyatakan dalam perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah total zat dalam larutan, atau dalam perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah pelarut. Contoh beberapa satuan konsentrasi adalah molar, molal, dan bagian per juta (part per million, ppm). Sementara itu, secara kualitatif, komposisi larutan dapat dinyatakan sebagai encer (berkonsentrasi rendah) atau pekat (berkonsentrasi tinggi).
Pelarutan
Ion natrium tersolvasi oleh molekul-molekul air
Molekul komponen-komponen larutan berinteraksi langsung dalam keadaan tercampur. Pada proses pelarutan, tarikan antarpartikel komponen murni terpecah dan tergantikan dengan tarikan antara pelarut dengan zat terlarut. Terutama jika pelarut dan zat terlarut sama-sama polar, akan terbentuk suatu sruktur zat pelarut mengelilingi zat terlarut; hal ini memungkinkan interaksi antara zat terlarut dan pelarut tetap stabil.
Bila komponen zat terlarut ditambahkan terus-menerus ke dalam pelarut, pada suatu titik komponen yang ditambahkan tidak akan dapat larut lagi. Misalnya, jika zat terlarutnya berupa padatan dan pelarutnya berupa cairan, pada suatu titik padatan tersebut tidak dapat larut lagi dan terbentuklah endapan. Jumlah zat terlarut dalam larutan tersebut adalah maksimal, dan larutannya disebut sebagai larutan jenuh. Titik tercapainya keadaan jenuh larutan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, seperti suhu, tekanan, dan kontaminasi. Secara umum, kelarutan suatu zat (yaitu jumlah suatu zat yang dapat terlarut dalam pelarut tertentu) sebanding terhadap suhu. Hal ini terutama berlaku pada zat padat, walaupun ada perkecualian. Kelarutan zat cair dalam zat cair lainnya secara umum kurang peka terhadap suhu daripada kelarutan padatan atau gas dalam zat cair. Kelarutan gas dalam air umumnya berbanding terbalik terhadap suhu.
Larutan ideal
Bila interaksi antarmolekul komponen-komponen larutan sama besar dengan interaksi antarmolekul komponen-komponen tersebut pada keadaan murni, terbentuklah suatu idealisasi yang disebut larutan ideal. Larutan ideal mematuhi hukum Raoult, yaitu bahwa tekanan uap pelarut (cair) berbanding tepat lurus dengan fraksi mol pelarut dalam larutan. Larutan yang benar-benar ideal tidak terdapat di alam, namun beberapa larutan memenuhi hukum Raoult sampai batas-batas tertentu. Contoh larutan yang dapat dianggap ideal adalah campuran benzena dan toluena.
Ciri lain larutan ideal adalah bahwa volumenya merupakan penjumlahan tepat volume komponen-komponen penyusunnya. Pada larutan non-ideal, penjumlahan volume zat terlarut murni dan pelarut murni tidaklah sama dengan volume larutan.
Sifat koligatif larutan
Larutan cair encer menunjukkan sifat-sifat yang bergantung pada efek kolektif jumlah partikel terlarut, disebut sifat koligatif (dari kata Latin colligare, "mengumpul bersama"). Sifat koligatif meliputi penurunan tekanan uap, peningkatan titik didih, penurunan titik beku, dan gejala tekanan osmotik.
ifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak tergantung pada macamnya zat terlarut tetapi semata-mata hanya ditentukan oleh banyaknya zat terlarut (konsentrasi zat terlarut).
Apabila suatu pelarut ditambah dengan sedikit zat terlarut (Gambar 6.2), maka akan didapat suatu larutan yang mengalami:
1. Penurunan tekanan uap jenuh
2. Kenaikan titik didih
3. Penurunan titik beku
4. Tekanan osmosis
Banyaknya partikel dalam larutan ditentukan oleh konsentrasi larutan dan sifat Larutan itu sendiri. Jumlah partikel dalam larutan non elektrolit tidak sama dengan jumlah partikel dalam larutan elektrolit, walaupun konsentrasi keduanya sama. Hal ini dikarenakan larutan elektrolit terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan non elektrolit tidak terurai menjadi ion-ion. Dengan demikian sifat koligatif larutan dibedakan atas sifat koligatif larutan non elektrolit dan sifat koligatif larutan elektrolit.
Penurunan Tekanan Uap Jenuh
Pada setiap suhu, zat cair selalu mempunyai tekanan tertentu. Tekanan ini adalah tekanan uap jenuhnya pada suhu tertentu. Penambahan suatu zat ke dalam zat cair menyebabkan penurunan tekanan uapnya. Hal ini disebabkan karena zat terlarut itu mengurangi bagian atau fraksi dari pelarut, sehingga kecepatan penguapan berkurang.
Menurut Roult :
p = po . XB
keterangan:
p : tekanan uap jenuh larutan
po : tekanan uap jenuh pelarut murni
XB : fraksi mol pelarut
Karena XA + XB = 1, maka persamaan di atas dapat diperluas menjadi :
P = Po (1 – XA)
P = Po – Po . XA
Po – P = Po . XA
Sehingga :
ΔP = po . XA
keterangan:
ΔP : penuruman tekanan uap jenuh pelarut
po : tekanan uap pelarut murni
XA : fraksi mol zat terlarut
Contoh :
Hitunglah penurunan tekanan uap jenuh air, bila 45 gram glukosa (Mr = 180) dilarutkan dalam 90 gram air ! Diketahui tekanan uap jenuh air murni pada 20oC adalah 18 mmHg.
Kenaikan Titik Didih
Adanya penurunan tekanan uap jenuh mengakibatkan titik didih larutan lebih tinggi dari titik didih pelarut murni. Untuk larutan non elektrolit kenaikan titik didih dinyatakan dengan:
ΔTb = m . Kb
keterangan:
ΔTb = kenaikan titik didih (oC)
m = molalitas larutan
Kb = tetapan kenaikan titik didihmolal

(W menyatakan massa zat terlarut), maka kenaikan titik didih larutan dapat dinayatakan sebagai:

Apabila pelarutnya air dan tekanan udara 1 atm, maka titik didih larutan dinyatakan sebagai :
Tb = (100 + ΔTb) oC

Penurunan Titik Beku
Untuk penurunan titik beku persamaannya dinyatakan sebagai:
Keterangan:
ΔTf = penurunan titik beku
m = molalitas larutan
Kf = tetapan penurunan titik beku molal
W = massa zat terlarut
Mr = massa molekul relatif zat terlarut
p = massa pelarut
Apabila pelarutnya air dan tekanan udara 1 atm, maka titik beku larutannya dinyatakan sebagai:
Tf = (O – ΔTf)oC
Tipe-tipe larutan
Larutan dapat diklasifikasikan misalnya berdasarkan fase zat terlarut dan pelarutnya. Tabel berikut menunjukkan contoh-contoh larutan berdasarkan fase komponen-komponennya.
Contoh larutan

Zat terlarut
Gas Cairan Padatan
Pelarut Gas Udara (oksigen dan gas-gas lain dalam nitrogen)
Uap air di udara (kelembapan)
Bau suatu zat padat yang timbul dari larutnya molekul padatan tersebut di udara
Cairan Air terkarbonasi (karbon dioksida dalam air) Etanol dalam air; campuran berbagai hidrokarbon (minyak bumi)
Sukrosa (gula) dalam air; natrium klorida (garam dapur) dalam air; amalgam emas dalam raksa

Padatan Hidrogen larut dalam logam, misalnya platina
Air dalam arang aktif; uap air dalam kayu
Aloi logam seperti baja dan duralumin

Berdasarkan kemampuannya menghantarkan listrik, larutan dapat dibedakan sebagai larutan elektrolit dan larutan non-elektrolit. Larutan elektrolit mengandung zat elektrolit sehingga dapat menghantarkan listrik, sementara larutan non-elektrolit tidak dapat menghantarkan listrik.


LARUTAN
Soal perhitungan probabilitas

Contoh soal perhitungan manual :
1. Sebuah perusahaan ingin megirim beberapa karyawannya ke luar negeri untuk mendapat pendidikan yang lebih, perusahaan tersebut ingin mengirim 8 karyawannya yang di seleksi dari 15 karyawannya, berapakah peluang kejadian tersebut :
Jawab : p = 15 i
8 i ( 15 – 8 ) i
= 15 i
8 i . 7 i
= 15 x 14 x 13 x 12 x 11 x 10 x 9 x 8 x7i
8i . 7i
= 15 x 14 x 13 x 12 x 11 x 10 x 9 x 8
8 x 7 x 6 x 5 x 4 x 3 x 2 x 1
= 259459200
40320
= 6435
2. Sebuah sekolah ingin mengikuti sebuah tournament antar sekolah, sekolah tersebut kemudian menyeleksi siswa-siwanya, Banyaknya anggota team futsal yang akan terbentuk dari 9 orang adalah ?
Jawab : p = ( n – 1 ) i
= ( 9 – 1 ) i
= 8 i
= 40320
3. Pt. suka situ akhh akan menseleksi 30 orang sarjana untuk diperkerjakan sebagai personalia, leader, dan maintenance , dan jika anda dan 1 teman anda dirumah terpilih berapakah peluang yang muncul?
Jawab : p = 30 i
3 i . ( 30 – 3 )i
= 30 i
3 I . 27 i
= 30 x 29 x 28 x 27i
3 i . 27 i
= 24360
6
= 4060
Kemudian peluag anda adalah 4060 : 2 = 2030
4. Sebuah perusahaan ingin membuat 3 mobil dengan 6 karyawan, berapakah peluang mobil tersebut jadi?
Jawab : p = 6i
3i . ( 6-3 )i
= 6i
3i . 3i
= 6 x 5 x 4 x 3i
3i . 3i
= 120
6
= 20
5. 3 anak kecil ingi bermain mainan jungkat- jungkit yang hanya muat 2 orang, berapakah peluang anak tersebut main-mainan tersebut bersamaan?
Jawab : p = 3i
2i. (3-2)i
= 3i
2i. 1i
= 3 x 2 x 1
2 x 1
= 3

Kamis, 24 Februari 2011

konflik agama merupakan ancaman bagi NKRI

KONFLIK AGAMA MERUPAKAN ANCAMAN BAGI NKRI
PENDAHULUAN
Belakangan ini negara kita,negara indonesia. mungkin di sesuatu daerah mengalami suatu masalah konflik agama yang merupakan ancaman bagi negara kesatuan republik indonesia (NKRI). di negara indonesia ini seluruh agama di golongkan hingga menjadi suatu kelompok salah satunya Front Pembela Islam (FPI) dan masih banyak lagi,dikarnakan agar kelompok tersebut membuat suatu pemikiran yang di diskusikan dan di ajukan ke publik untuk menuntut kebenaran sesuai peraturan UUD di negara indonesia ini.


Para pendiri bangsa kita yang telah melahirkan dan membentuk negara ini dengan pemikiran arif dan bijaksana, dan dengan pandangan yang jauh ke depan telah meletakkan dasar-dasar yang kuat dan teguh di atas nama negara ini dapat tumbuh dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berbhinneka tunggal ika.
NKRI
Adapun prinsip dasar yang diletakkan adalah negara kesatuan yang bersifat integralistik dengan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan yang ditetapkan dalam rumusan UUD 1945 dan Pancasila. Itu berarti hakekat kebangsaan kita adalah memberikan ruang dan kesempatan kewilayaan/ kedaerahan, golongan, keagamaan yang semakin dewasa dan mandiri dan tidak bisa tidak harus bertolak dari fakta bahwa memang wilayah negara ini sangat luas, yang di dalamnya hidup masyarakat yang terdiri berbagai suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat dan lain sebagainya.
Tujuannya merupakan hasil konsensus nasional dan pemikiran inklusif dan cerdas para pendiri bangsa. Segenap bangsa Indonesia harus dilindungi. Artinya negara menaungi (agar tidak kepanasan), mengalangi (agar tidak dikenai tembakan dan pengrusakan) dan menjaga (agar selamat). Tentu semua itu dalam korridor hukum.
dalam negara indonesia,adanya aparatur pemerintahan yang meliputi lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif. Semua lembaga tersebut saling terkait dan bekerja bersama-sama sesuai dengan bidangnya dalam menggapai tujuan NKRI yaitu "melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia termasuk melindungi pemeluk agama-agama yang ada di dalamnya".
Konflik antar pemeluk agama, khususnya antar pemeluk agama Islam – Kristen dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seyogiyanya tidak berlarut-larut terjadi hingga dewasa ini bila aparatur negara dan masyarakat sungguh-sungguh setia dan taat sepenuhnya pada Pancasila dan UUD 1945.
Konflik Agama Islam-Kristen
Konflik antar pemeluk agama khususnya Islam – Kristen terjadi tidak hanya di Indonesia. Namun dalam konteks NKRI, negara dalam hal ini pemerintah merupakan tameng perlindungan bagi segenap bangsa terutama warga pemeluk agama yang tertindas dan teraniaya.
Kenyataan menunjukkan, negara yang diwakili oleh pemerintah NKRI, relatif belum berhasil melindungi segenap bangsa Indonesia dan tumpah darah Indonesia. Hal ini terlihat dari perjalanan bangsa dimana konflik antara agama Islam – Kristen menimbulkan korban ketidakadilan.
Pada masa Orde Lama, konflik Islam – Kristen ditandai dengan pemberontakan DI/ TII/ NII, perdebatan konstituante, dan masalah penyiaran agama yaitu adanya keinginan sebagian pemeluk agama untuk membentuk nusantara menjadi negara agama.
sedangkan pada Pada masa Orde Baru, konflik agama diindikasikan dengan kebijakan pemerintah yang memutuskan SKB No 1/ 1969 tentang pembangunan rumah ibadah, RUU Perkawinan 1973, perkawinan beda agama, RUU Pendidikan Nasional, RUU Peradilan Agama, serta rangkaian kerusuhan dan pengrusakan gereja. Konflik tersebut menimbulkan korban baik secara fisik maupun batiniah bagi pemeluk agama yang tertindas.


sedangkan di era “reformasi” konflik agama Islam – Kristen ditandai dengan rangkaian kerusuhan di Kupang, Poso, Ambon-Maluku, Kalimantan, rangkaian ledakan bom di beberapa gereja, isu Piagam Jakarta dan amandemen UUD 1945, UU Pendidikan Nasional 2003, Fatwa MUI yang mengharamkan pluralisme, liberalisme dan sekularisme dan terakhir penutupan paksa sejumlah bangunan gereja dan perumahan yang digunakan sebagai tempat ibadah. Konflik Islam – Kristen tetap terjadi secara terselubung dan bahkan secara terang-terangan dengan berbagai jalur yang memungkinkan, namun tugas negara tetap melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia terlepas dari apapun agama atau kepercayaannya.


sepanjang sejarah,Seturut era “reformasi”, kewenangan pembangunan bangsa di bidang agama tetap berada di tangan pemerintah pusat. Sebagaimana disebutkan dalam UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan pemerintah provinsi sebagai daerah otonom. Pemerintah Pusat disebutkan mempunyai kewenangan di bidang agama dan kewenangan itu tidak diserahkan ke pemerintah daerah. Tentu kebijakan ini bertujuan untuk melindungi segenap bangsa dan kedaulatan di negara indonesia.
Kita semua tahu, bahwa semua warga masyarakat NKRI harus setia dan taat dan teristimewa aparat negara (pegawai negeri sipil, TNI dan Polisi RI) harus mengangkat sumpah setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan UUD 1945. Juga mereka bersumpah bahwa mereka mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan golongan dan diri sendiri (PP No 32 Tahun 1980).
NKRI sudah 60 tahun merdeka. Enam puluh tahun pula kita semua membacakan dan mendengarkan Pancasila dan UUD 1945 ketika Upacara Bendera pada hari-hari besar negara. Yang lebih istimewa adalah aparat negara selalu diangkat sumpah untuk setia pada Pancasila dan UUD 1945. Sayangnya banyak aparatur negara masih berada pada tataran bersumpah setia “tentang” Pancasila dan UUD 1945 di mulut, namun belum “benar-benar” bersumpah setia dalam pelaksanaan tugas.
Ketidaksetiaan pada Pancasila dan UUD 1945dalam hidup bernegara, berbangsa dan bernegara terlihat dari adanya pemeluk agama yang tertindas, dan rumah ibadahnya dirusak dan dibakar, merajalelanya korupsi, kolusi dan nepotisme, ketidakadilan pemerataan pendapatan negara dan penegakan hukum yang relatif belum berjalan.

Jika kita tetap demikian maka tantangan terbesar adalah kelangsungan dan keutuhan negeri ini sebagai NKRI. Ancaman disintegrasi, dan terpecah-belah oleh konflik karena latar belakang perbedaan suku, agama, ras dan antargolongan akan selalu mengerogoti kita.

Namun bila kita masih menghendaki kelangsungan dan keutuhan NKRI maka tidak bisa tidak pemerintah harus melindungi segenap bangsa dan taumpah darah Indonesia dari ancaman kekerasan, penganiayaan, pengrusakan, pembakaran, pemanipulasian, pembodohan dan ancaman-ancaman lainnya. Untuk itu pewujudnyataan sumpah setia pada Pancasila dan UUD 1945 masih harus tetap diusahakan bersama.

PENUTUP
Semoga penjelasan tentang konflik agama di negara kita bisa di atasi dan semua peradaban masing-masing agama masih dapat mentaati UUD 1945 di negara kesatuan indonesia ini. sekian sekiranya penjelasan saya untuk itu saya mohon maaf apabila ada kekurangan dan kesalahan dalam penulisan kata di atas. sekian dan terimakasih .

AHMAD NASRULLAH
30410404
1ID04